NYANYIAN RATAPAN SANG PEMBAWA BEBAN

NYANYIAN RATAPAN SANG PEMBAWA BEBAN

Click to enlarge
Material: Oil on Canvas Size: 70x100 cm

View Detail

Di bawah tabir langit keemasan yang bergolak, gumpalan asap kehidupan yang tak menentu menari di atas kanvas. Di tengah pusaran cahaya yang menyesakkan itu, bertengger sesosok makhluk—bukan sebagai penuntun, melainkan sebagai beban.

Dialah Kera Sarjana, mengenakan toga hitam kelam dan jubah kemerahan yang mencolok, lambang kebanggaan semu atas tumpukan ilmu yang kehilangan jiwa. Wajahnya datar, acuh, dan dingin; memantulkan kekuasaan yang telah menceraikan empati, sebuah "intelektualitas" yang terpenjara dalam mentalitas primata yang picik. Ia tidak menyentuh tanah. Tangannya tak menopang, matanya tak menatap ke bawah. Ia sekadar hadir, menumpang dalam kenyamanan absolut, sementara penderitaan berlangsung tepat di bawahnya.

Di bawah sosok itu berdirilah sang kerbau, atau lebih tepatnya, dualisme dari mereka yang tertindas. Sepasang makhluk mulia ini digambarkan bertumpuk sebagai simbol beban yang terus berlipat, melangkah berat menembus kabut takdir.

Pandanglah matanya. Di sana mengalir sungai air mata yang tak pernah benar-benar berhenti, membasahi pipi yang keras dan legam. Itu bukan sekadar air mata kelelahan jasmani, melainkan tangisan jiwa yang remuk karena martabatnya direduksi menjadi sekadar alat pemikul dan objek eksploitasi. Liur yang menetes dari bibirnya yang kelu menjelma jeritan tanpa suara—sebuah pengakuan akan penderitaan yang tak berkesudahan di bawah cambuk sang "tuan" yang bahkan tak pernah sudi menoleh.

Lukisan ini bukan sekadar menggambarkan seekor kera yang menunggangi kerbau. Ia adalah tragedi kemanusiaan yang diabadikan di atas kanvas, sebuah alegori tajam tentang zaman ketika mereka yang berpengetahuan, yang mengenakan lencana akademis di atas kepalanya, justru kehilangan kompas nurani. Mereka menaiki punggung sesamanya, memandang kaum di bawah hanya sebagai ternak pemikul beban, memaksa mereka menangis dalam diam dan meneteskan air liur keputusasaan demi menopang panggung kekuasaan intelektual yang semu.

Di tengah ledakan warna yang tampak indah sekaligus mengancam ini, kesedihan para kerbau menjelma ratapan paling nyaring bagi nurani kita. Lukisan ini menjadi pengingat bahwa bentuk perbudakan yang paling berbahaya bukan selalu yang terlihat oleh mata, melainkan yang bersembunyi di balik gelar, status, dan kecerdasan yang kehilangan belas kasih. Sebab ilmu tanpa nurani tidak melahirkan kebijaksanaan, melainkan kesombongan; dan ketika kecerdasan berhenti melayani kemanusiaan, ia berubah menjadi alat penindasan yang paling halus sekaligus paling menyakitkan.

Semoga Kita Semua Selalu dalam Rida dan Pertolongan Allah SWT. Aamiin… Aamiin…. Aamiin… Allahumma Aamiin.

Available
View Cart Chat on WhatsApp
Ditambahkan ke keranjang