View Detail
Di antara batas fana dan baka, terbentang sebuah jalan sunyi yang membelah samudra eksistensi. Lukisan ini merupakan manifestasi visual dari doa yang abadi: “Ihdinas-Sirathal Mustaqim”—“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”
Tampak sebuah tangan melampaui dimensi kanvas, menggenggam kuas yang bukan sekadar menyapukan warna, melainkan mengukir arah kehidupan. Jalan itu berkelok, namun tetap pasti, mendaki di antara tebing-tebing pengalaman dan deburan ombak ujian yang membiru di kejauhan. Kuas tersebut menjelma jembatan antara kehendak Sang Pencipta dan ikhtiar hamba-Nya; setiap goresannya adalah langkah, dan setiap warnanya adalah hikmah.
Bingkai di dalam bingkai menciptakan ruang perenungan yang mengajak penikmat memasuki relung batin yang paling sunyi. Tekstur yang kasar berpadu dengan sapuan warna yang tegas menjadi metafora dinamika perjuangan manusia—jalan yang tak selalu mulus, namun senantiasa mengarah kepada satu titik cahaya yang haq.
Pada akhirnya, karya ini mengingatkan bahwa hidayah bukanlah tujuan yang datang dengan sendirinya, melainkan perjalanan yang terus diikhtiarkan. Di hadapan kanvas ini, seni tidak lagi berhenti sebagai pengalaman visual, melainkan menjelma menjadi sebuah doa yang hidup, sebuah sujud panjang yang diwujudkan dalam bahasa rupa.
Semoga Kita Semua Selalu dalam Rida dan Pertolongan Allah SWT. Aamiin… Aamiin…. Aamiin… Allahumma Aamiin.