TANAM ILMU
Click to enlarge

TANAM ILMU

·Sculptural Mixed Media on Canvas
Material: Sculptural Mixed Media on Canvas Size: 100x70 cm

View Detail

Di atas kanvas malam yang pekat laksana suwung — kekosongan awal sebelum jagad dicipta — dua sosok duduk berhadapan. Bukan cahaya yang melukis mereka, melainkan sukma itu sendiri yang memutih.


Seorang Sepuh Ghoib, bersorban lilitan zaman, berjanggut samudra, wajahnya adalah peta dari ribuan tahun tirakat. Matanya tidak menatap, tapi menembus. Ia bukan manusia, ia adalah penjaga gerbang ilmu yang tak tertulis.


Di hadapannya, seorang murid, menunduk dalam khidmat, dalam ngabekti yang sempurna. Tubuhnya masih muda dalam pencarian, namun jiwanya sudah tua dalam kerinduan.


Dan lihatlah keajaibannya — tubuh mereka bukanlah daging.


Tubuh mereka adalah Akar.


Akar-akar putih yang hidup, berpilin, melilit, saling menjalin, saling mengikat. Dari dada Sang Sepuh, akar-akar ilmu itu tumbuh, menjalar, lalu menembus, meresap, dan menancap hingga ke urat nadi, ke sumsum, ke jantung si murid.


Ini bukan proses belajar. Ini adalah proses Tanam.


Sang Guru tidak sedang mengajar dengan kata-kata. Ia sedang menanamkan. Ilmu itu tidak dihafal, tapi ditanam. Seperti benih beringin raksasa yang ditanam di tanah sukma. Sekali tumbuh, ia akan mengakar abadi, tak bisa dicabut oleh badai lupa, tak bisa layu oleh kemarau zaman.


Di sekeliling mereka, dua pohon di kegelapan menjadi saksi bisu. Alam pun terdiam, menahan napas, menyaksikan ijab kabul antara ilmu dan wadahnya.


Hitam adalah rahasia. Putih adalah cahaya yang berhasil direbut dari rahasia itu. Dan akar adalah janji — bahwa ilmu yang sejati, jika ia benar-benar masuk, ia akan hidup, ia akan berurat-berakar menjadi darah daging, menjadi perilaku, menjadi jalan hidup.

Available
View Cart Chat on WhatsApp
Added to cart