View Detail
Di atas kanvas yang berani ini, terhampar sebuah tarian visual antara bentuk dan esensi—sebuah cermin retak yang memantulkan realitas yang ganda. Di tengah latar yang gelap dan misterius, berdiri sosok seekor kera, simbol primata purba yang tak terelakkan dengan segala naluri dan kebersahajaannya. Namun, ia bukanlah kera liar yang hidup di belantara. Ia telah tampak "beradab" melalui lilitan surban hijau di kepalanya, setelan jas hijau zamrud yang rapi, rompi berwarna terakota yang hangat, dasi gelap, serta sepasang sepatu lars militer yang kokoh menapak bumi.
Inilah sebuah paradoks—kontradiksi yang sengaja dihadirkan. Surban melambangkan kedalaman spiritual dan ketakwaan, jas menjadi simbol kepemimpinan dan kewibawaan, sementara sepatu lars mencerminkan ketegasan serta disiplin. Akan tetapi, di balik seluruh atribut yang tampak mulia itu, hakikat sang kera tetaplah sama. Penampilan dapat berubah, tetapi watak tidak serta-merta ikut berubah.
Melalui sapuan kuas yang ekspresif dan permainan warna yang kaya, lukisan ini mengajukan pertanyaan mendasar tentang karakter dan tujuan hidup. Ia seakan berteriak bahwa atribut lahiriah—baik jubah kesalehan, seragam pengabdian, maupun lambang kekuasaan—tidak lebih dari pakaian yang dikenakan. Semua itu dapat menjadi topeng yang memikat untuk menyembunyikan hati yang dipenuhi keserakahan. Jika tangan yang terangkat hanya menggenggam demi kepentingan sendiri, dan langkah yang tegap hanya menuju keuntungan pribadi, maka, betapapun terhormat atribut yang dikenakannya, hakikatnya ia tetaplah seekor kera yang tak pernah mampu melampaui belenggu hawa nafsu.
Namun, lukisan ini juga menghadirkan sisi lain dari kebenaran. Kemuliaan sejati tidak pernah ditentukan oleh rupa, kedudukan, ataupun pakaian yang dikenakan. Bahkan, jika "wajah" seekor kera tampak jauh dari citra ideal manusia, tetapi akalnya diterangi hikmah, nuraninya dibimbing kebijaksanaan, dan seluruh langkah hidupnya dipersembahkan untuk kepentingan umat, maka dialah patriot sejati. Dalam konteks itu, jas dan dasi bukan lagi sekadar busana, melainkan lambang pengabdian. Hati yang memikirkan nasib orang banyak adalah mahkota yang tak kasatmata, yang sanggup mengubah sosok yang tampak asing menjadi penyelamat bangsa.
Dengan pose yang tegas sekaligus penuh teka-teki, kera ini menatap langsung ke arah kita. Tatapannya bukan sekadar menghadirkan rasa ingin tahu, melainkan juga mengundang perenungan. Ia mengingatkan bahwa yang tampak bukanlah selalu yang sejati. Kain kafan tidak menjadikan seseorang suci, sebagaimana seragam tidak otomatis menjadikan seseorang pahlawan. Pada akhirnya, bukan simbol yang menentukan nilai seorang manusia, melainkan nurani yang hidup, akal yang jernih, dan perbuatan yang nyata.
Semoga Kita Semua Selalu dalam Rida dan Pertolongan Allah SWT. Aamiin… Aamiin…. Aamiin… Allahumma Aamiin.