Lihat Detail
Di balik pekatnya tirai malam yang digambarkan dalam sapuan warna kelam, terpancar sebuah cahaya biru yang tenang namun berwibawa. Lukisan ini bukan sekadar goresan kaligrafi, melainkan sebuah monolog sunyi antara hamba yang fakir dengan Sang Khalik yang Maha Diraja.
Goresan "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anna" mengalir bak sungai ketenangan di tengah kekacauan dunia. Ia adalah pengakuan paling jujur: bahwa manusia adalah tempatnya khilaf, namun Tuhan adalah samudera maaf yang tak bertepi. Di sana, kita tidak hanya meminta ampunan karena takut, tapi karena kita tahu bahwa Dia mencintai proses memaafkan itu sendiri.
Lalu, di sela-sela permohonan itu, hadir penegasan "Wahuwal 'Azizul Hakim". Di sinilah keindahan itu memuncak, bahwa Sang Pengampun bukanlah Dzat yang lemah. Dia adalah Sang Maha Perkasa yang mampu menghukum, namun memilih untuk bijaksana; Sang Pemilik Semesta yang kekuasaan-Nya tak tertandingi, namun tetap membukakan pintu bagi siapa pun yang bersimpuh.
Warna biru yang dominan melambangkan kedalaman langit dan luasnya samudera rahmat-Nya. Melalui karya ini, kita diajak untuk menyadari bahwa di hadapan Sang Maha Perkasa, senjata terkuat seorang hamba bukanlah pedang atau harta, melainkan kerendahan hati untuk memohon maaf.
Gema ini terus bergaung, melintasi batas langit, hingga hinggap di relung hati yang paling dalam.
Semoga Kita Semua Selalu dalam Rida dan Pertolongan Allah SWT. Aamiin… Aamiin…. Aamiin… Allahumma Aamiin.