KERINDUAN PADA ASALNYA
Lihat Detail
Di atas kanvas kelam seluas jagat, semesta ditahan dalam bingkai kayu sederhana, namun isinya meledak tak terbendung.
Di sudut kiri bawah, ia lahir. Sebuah bola api, jantung yang membara, merah menyala seperti bara dendam purba. Ia bukan sekadar komet, ia adalah Sang Musafir Abadi, yang mengoyak selimut malam dengan ekornya yang keemasan.
Ekor itu — ya Allah — betapa agungnya. Bukan asap, melainkan sungai cahaya cair, pita sutra emas yang dibentangkan Tuhan dari ujung ke ujung langit. Ia melengkung anggun bak sabit keramat, membelah kegelapan, meninggalkan jejak doa yang belum sempat selesai diucapkan.
Dan di sepanjang jejak cahaya itu, planet-planet tunduk berbaris.
Ada rembulan-rembulan kecil yang setia mengiring, pucat dan bulat seperti air mata yang membeku. Ada Saturnus yang anggun dengan cincinnya yang tipis, berputar malu-malu di tepi cahaya. Ada bumi kita yang biru, kecil dan rapuh di pojok bawah, memandang dari kejauhan, seolah menyaksikan takdirnya sendiri melintas.
Di latar belakang, jauh di luar jangkauan ekor emas itu, galaksi-galaksi berpusar. Pusaran-pusaran cahaya spiral, biru dan jingga, bertebaran seperti koin-koin surga yang tercecer. Bintang-bintang bertaburan, bukan dilukis, melainkan ditusukkan satu per satu ke langit — berkedip, berdesir, menjadi saksi bisu.
Lukisan ini bukan tentang kehancuran. Ini tentang perjalanan.
Sang komet tidak menabrak, ia menyapa. Ia datang bukan untuk memusnahkan, melainkan untuk mengingatkan: bahwa kita hanyalah debu yang menempel di ekor cahaya, bahwa di tengah gelapnya semesta yang tak bertepi, selalu ada api yang berani melintas, selalu ada cahaya yang menolak padam.
Ia adalah potret kerinduan. Kerinduan manusia pada asalnya