Lihat Detail
Di atas kanvas yang membisu, tersingkap sebuah semesta metafora yang tajam dan menggugah. Dalam lukisan ini, pelukis telah memvisualisasikan pepatah klasik "Mulutmu Harimaumu" dengan sapuan kuas yang penuh keberanian dan filosofi mendalam.
Sebuah mulut yang menganga lebar menjadi gerbang utama, sebuah ruang hampa yang menelan segalanya. Namun, di dalam kegelapan rongga itu, tidak ada keheningan. Justru di sana, seekor harimau bersemayam—sosok buas yang merajai kegelapan, siap menerkam siapa saja yang gegabah melepas kata tanpa kendali.
Warna-warna yang kontras dan berani—perpaduan merah yang membara, biru yang dingin, serta guratan tajam pada wajah sang harimau—menjadi simbol dari sisi liar dalam diri manusia. Lukisan ini adalah cermin bagi jiwa; pengingat bahwa setiap kalimat yang terucap adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi pembebas, namun tak jarang pula menjadi pemangsa bagi tuannya sendiri.
Karya ini adalah sebuah peringatan visual yang estetik: bahwa di balik bibir manusia, ada hutan belantara emosi yang harus dijinakkan, agar harimau di dalamnya tidak bangkit, mengaum, dan mencabik harga diri kita sendiri.
Semoga Kita Semua Selalu dalam Rida dan Pertolongan Allah SWT. Aamiin… Aamiin…. Aamiin… Allahumma Aamiin.