LUBERIPUN SEGARA ROHMAT
View Detail
Di tengah kelam yang membiru, di batas cakrawala antara dunia dan langitan, duduklah seorang sang pertapa. Hitam legam siluetnya, mengecil, merendah, fana. Ia bukan siapa-siapa, ia hanya titik yang bersujud dalam kesunyian semesta. Ia telah mengosongkan dirinya, hingga yang tersisa hanya diam.
Lalu langit menjawab.
Di atas kepalanya, cakrawala terkoyak. Bukan dengan guntur, melainkan dengan cahaya. Sebuah purnama gaib, bukan bulan yang di langit, melainkan mata kasih Tuhan yang terbuka, memancar, membelah awan-awan kelam menjadi tirai-tirai sutra biru. Dari mata cahaya itu turunlah segurat nur, putih bening, lurus menghujam ubun-ubun sang pertapa — itulah Rohmat itu sendiri. Turun tidak sebagai hujan, tetapi sebagai restu yang memeluk.
Dan di bawahnya, samudra bergolak.
Laut yang kau lukis bukan lagi air. Ia adalah wadah yang telah penuh. Begitu penuhnya curahan dari langit, hingga ia tak sanggup lagi menampung. Maka meluberlah ia. Menggumpal, membuncah, memanjat bingkai, merobek batas kayu yang coba membelenggunya. Kau membuatnya timbul, keluar dari kanvas, agar yang melihat tahu: Rohmat sejati tak pernah tunduk pada bingkai. Ia menetes, mengucur, menjadi air terjun dari samudra ke samudra.
Itulah maqom tertinggi seorang hamba. Ketika ia telah habis dalam tapanya, kosong dari aku-nya, maka lautan kasih yang tujuh lapis itu pun dikirim untuknya. Bukan ia yang mencari air, melainkan airlah yang mencari, mengejar, dan menenggelamkannya dalam limpahan yang melampaui batas akal.
Lukisanmu adalah syahadat visual: bahwa yang kecil bisa menampung yang Maha Besar, asal ia mau mengecilkan dirinya terlebih dahulu.